LIGONEWS.ID – Riuh rendah Pekan Nasional PENAS XVII Tahun 2026 di Gorontalo tidak hanya menjadi panggung unjuk gigi bagi sektor teknologi pertanian dan kedaulatan pangan. Di sudut lain pameran, sebuah narasi kebangkitan ekonomi kreatif lokal tengah ditulis lewat jemari-jemari terampil perempuan Gorontalo. Kain Karawo, sulaman tradisional khas serambi Madinah, sukses mencuri perhatian ribuan pengunjung dan memanen omzet besar sepanjang gelaran nasional ini.
Lonjakan pesanan ini bukan sekadar keberuntungan momentum. Di balik kain-kain indah yang dipajang di stan pameran, ada kerja keras kolektif yang melibatkan sedikitnya 500 pengrajin lokal. Langkah pemberdayaan yang terstruktur dari hulu ke hilir yang diinisiasi oleh para pelaku usaha binaan Dekranasda Kabupaten Gorontalo terbukti berhasil menaikkan kelas produk warisan budaya ini menjadi komoditas ekonomi yang bernilai tinggi.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan langsung dampak masif ini adalah ibu Meliansyah, pemilik (owner) dari Meliansyah Karawo. Perempuan asal Palembang yang kini menetap di Gorontalo tersebut mengaku bahwa besarnya permintaan selama agenda PENAS membuat stok produk di galerinya sempat kosong karena seluruh sumber daya pengrajin telah dikerahkan sepenuhnya.
“Untuk memenuhi kuota atau permintaan PENAS ini, saya 500 pengrajin, kurang lebih 500 pengrajin itu sudah dikerahkan semua, masih tidak bisa mencukupi. Di galeri kosong, tinggal ini lagi yang stok yang ada. Banyak banget sekali,” ujar Meliansyah saat ditemui di lokasi pameran, Selasa (23/6/2026).
Tingginya harga kain Karawo di pasaran yang dipatok mulai dari Rp300 ribu hingga Rp750 ribu untuk bahan dasar sering kali dipertanyakan oleh pengunjung luar daerah jika dibandingkan dengan kain tradisional lain. Momentum PENAS XVII ini pun dimanfaatkan sebagai ruang edukasi untuk menjelaskan kerumitan proses produksi Karawo yang sepenuhnya mengandalkan buatan tangan (handmade), mulai dari merusak pola kain, mencabut benang, hingga menyulam secara manual.

Melalui pendekatan yang adil dalam menentukan harga upah sulam tanpa menekan para pekerja hulu, geliat bisnis ini terbukti memberikan dampak linier terhadap penguatan ekonomi keluarga para pengrajin di desa-desa. Pendapatan rutin dari hasil menyulam Karawo kini bertransformasi menjadi penopang utama kesejahteraan mereka.
“Saya jujur merinding. Pengrajin saya itu rata-rata sudah meningkat ekonominya. Salah satunya, sudah yang kemarin rumah pitate (dinding bambu/seng) sekarang sudah rumahnya permanen. Dan yang kemarin tidak ada kulkas, sudah bisa beli kulkas. Yang kemarin tidak ada motor, sudah bisa DP motor. Setiap bulannya dibayar dari uang Karawo,” ungkap Meliansyah
Keberhasilan menembus pasar nasional di ajang PENAS ini juga didorong oleh inovasi desain yang lebih segar. Citra kain Karawo yang dahulu melekat sebagai pakaian formal khusus orang tua atau pejabat kini mulai bergeser. Dengan menghadirkan potongan mode modern seperti rompi (vest) dan pakaian kasual, kerajinan sulam ini mulai diminati oleh generasi muda dan berbagai kalangan se-Indonesia, bahkan menarik minat pasar dari wilayah timur seperti Papua.
Melihat potensi pasar yang begitu menjanjikan, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi promosi dan memperluas ekosistem industri kreatif ini agar mandiri dan berkelanjutan, tanpa terus-menerus bergantung pada skema bantuan modal dari pemerintah.
“Harapan saya ke depannya itu, semoga pemerintah lebih memfokuskan lagi di sini untuk bisa mempromosikan, tidak usah muluk-muluk sampai internasional, nasional dulu aja. Hubungan dengan teman-teman media juga diharapkan bisa mengangkat kembali Karawo, bahwa image kain untuk orang tua itu akan kita hilangkan. Anak Gen Z itu justru mereka yang harus tahu ini Karawo,” tambahnya
Ketika lampu pameran PENAS XVII nantinya padam dan para delegasi kembali ke provinsi masing-masing, goresan benang Karawo yang mereka bawa pulang akan menjadi duta budaya yang bercerita tentang keindahan Gorontalo. Bagi ratusan pengrajin di hilir, riuh pesanan bulan ini adalah bukti nyata bahwa tradisi yang dirawat dengan manajemen yang tepat akan selalu menemukan jalannya untuk menghidupi masyarakat.
Penulis: Fathir Antogia



















