LIGONEWS.ID, KAB.GORONTALO – Angggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gorontalo dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Suwandi Musa merasa bersyukur telah dikeluarkan dari Fraksi Demokrat.
Suwandi Musa memgatakan bahwa dirinya baru menyadari bahwa Ketua Fraksi Demokrat (Nasir Sance Potale.read) tidak memahami esensi atau hakekat mengenai apa itu fraksi dan fraksi itu adalah pengelompokan.
“Mengapa dia (Nasir Sance Potale,read) saya katakan tidak paham, karena ada sebuah peristiwa pasca katanya ada perempuan bercadar yang bernama Ivanah di DPRD dan kemudian dia memerintahkan kepada saya dan saya bacakan biar lengkap. Kepada yang terhormat seluruh anggota Fraksi Demokrat Hanura untuk menyikapi persoalan yang sementara viral dimedia masa, Anggota Fraksi Demokrat Hanura perlu berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan dan pendapat menunggu perintah dari ketua DPC Demokrat,” kata Suwandi sembari membacakan pesan WhatsApp grup Fraksi Demokrat – Hanura yang dikirim Ketua Fraksi Nasir Sancr Potale.
Lebih lanjut Suwandi Musa mengungkapkan bahwa setelah membaca isi pesan WhastApp tersebut dirinya merasa lucu dan bercampur jengkel terhadap sikap Ketua Fraksi Nasir Sance Potale.
“Mengapa saya ketawa, saya jadi tidak mengerti kok saya dari Hanura diminta untuk menunggu perintah ketua DPC Demokrat, apa seperti itu ? Betul saya bergabung mengelompokan diri dengan mereka, tapi sadar ngga dia bahwa saya adalah Hanura yang tidak atas perintah Ketua DPC Demokrat,” lanjut aleg dapil Telaga cs ini. Sabtu (01/10/2022).
Menurut Suwandi Musa seharusnya yang boleh dilakukan adalah kembalikan kepada kesepakatan awal dimana Fraksi Demokrat-Hanura itu terbentuk. Tetapi hingga saat ini kata Suwandi kesepakatan awal itu tidak pernah terbangun ketika Fraksi Demokrat-Hanura terbentuk.
“Oleh karenanya saya bersyukur bisa keluar dari Fraksi Demokrat karena saya bisa keluar dari orang yang tidak mengerti serta tidak memahami esensi dari fraksi itu sendiri,” ucapnya.
Selain itu juga Suwandi Musa mengungkapkan alasan lainya Fraksi Demokrat mengeluarkan dirinya dan Jasmiah Suleman yaitu sejak merebaknya isu perempuan bercadar yang datang melapor ke DPRD dan dirinyalah yang menandatangani pengusulan pansus tersebut.
“Mereka tidak nyaman sayalah orang yang menandatangani usul pembentukan pansus itu dan itu melekat pada diri saya selaku anggota DPRD dan tidak harus nanya ke si A, B dan C. Namun hingga saat ini usul itu beluk ditindaklanjuti itu urusan lain tetapi paling tidak saya mengungkapkan dan menyampaikan kepada publik adalah sikap politik saya, ketika saya melihat ketidak benaran, ke zoliman, ke mungkaran dan sesuatu menurut saya tidak lazim maka selaku Anggota DPRD saya merasa wajib untuk mengklirkan persoalan ini,”
“Jadi saya menandatangani usul pembentukan pansus yang ini membuat gerah teman-teman di Demokrat khususnya Fraksi Demokrat-Hanura di DPRD Kabupaten Gorontalo dan itu karena mereka tidak setuju dengan isu perempuan bercadar dan berita yang viral untuk ditindaklanjuti di pansus mereka sangat tidak setuju. Nah biarlah publik yang tau, menilai bahwa ternyata Hanura didalamnya ada Suwandi Musa dan Jasmiah Suleman berbeda sikap dengan Demokrat karena kami berdua berpihak kepada kebenaran tetapi mereka tidak setuju untuk ditegakan kebenaran,” tegasnya.
Disinggung apakah bakal bergabung dengan fraksi Golkar, NasDem atau PKS, saat ini dirinya belum menetukan sikapnya, meskipun ketiga frkasi ini sangat welcome terhadap Hanura.
“Saya belum memilih dan melakukan pilihan karena lagi-lagi saya takut jangan sampai saya lagi salah memilih, oh tiba-tiba saya lagi bersuara untuk kebenaran maka fraksi dimana tempat saya bergabung tidak setuju untuk saya menyuarakan kebenaran itulagi yang bikin repot. Oleh karenanya saya sangat hati-hati memilih untuk bergabung difraksi yang mana dan yang jadi aneh dalam persidangan yang saya ikuti harusnya Banmus yang merumuskan kapan paripurna tapi yang semalam itu Paripurna yang merumuskan kapan mau Banmus,” tandasnya.
Penulis : Dafid Mohamad

















